Curhat Colongan

Antara Passion dan Keinginan

Terinspirasi dari cerita Chachu yang merasa tertampar dan cerita kak Bebe yang mulai menjalani cita-citanya, saya jadi merasa tersentil dan jadi mulai berpikir kira-kira apa ya passion saya?

Semasa kanak-kanak, mulai dari balita saya mulai menyukai musik. Dimulai dari piano mainan, berlanjut dengan ikut drumband di TK, kemudian waktu SD aktif di grup ensamble memainkan pianika dan ikut paduan suara sekolah. Sempat ikut drumband waktu kelas 4 tapi mengundurkan diri karena takut dipilih jadi mayoret. *cemen* Kelas 2 SMP, saya dipilih guru ikut paduan suara untuk wisuda kakak kelas. Masuk SMA, sepertinya bakat bermusik saya mulai hilang. Sudah ngga pernah lagi nyentuh not balok dan suara pun tiba-tiba jadi pas-pasan.

Masa-masa SD adalah masa kejayaan saya. Selain jadi grup ensamble dan paduan suara, saya aktif sekali menulis. Meskipun hanya menulis puisi dan cerpen untuk konsumsi sendiri dan sekedar dipajang di majalah dinding. Bahkan saya pernah ditunjuk sekolah untuk ikut lomba mata pelajaran Bahasa Indonesia dan berhasil maju sampai provinsi. Sewaktu SMP dan SMA saya masih menulis meskipun frekuensinya mulai jarang. Bahkan sempat jadi redaksi majalah dinding di SMA.

Waktu kecil saya juga suka sekali memakai kamera Bapak. Waktu itu saya sudah merasa jadi fotografer profesional kalau lagi pakai kamera itu. Sayangnya kamera itu kemudian dipinjam teman Bapak dan tidak pernah kembali. Bapak yang melihat saya sedih kehilangan kamera kemudian membelikan kamera baru. Tapi tetap saja tidak sama. Dan akhirnya kamera itu tersimpan di lemari baju di Solo sampai sekarang. Pengen memulai lagi belajar fotografi, bahkan kemarin dibelikan mas kamera digital tapi cuma kepakai di awal-awal. Sekarang? Sudah ngendon di lemari.

Bicara soal masak-masak, dulu suka banget bikin kue-kue bareng ibu dan saudara yang tinggal di rumah. Tiap minggu pasti nge-baking. Kemudian saudara itu menikah dan ikut suaminya, dilanjutkan saya harus pindah ke Jakarta Tangsel untuk kuliah, jadilah kebiasaan itu terhenti. Saya masih sering masak terutama waktu awal-awal kuliah tingkat 1, tapi sejak kenal dan pacaran sama mas jadi malas dan milih makan berdua di luar. Waktu tingkat 2 dan tingkat 3 pindah kos yang lebih ramah sama kaum adam, jadi mulai masak-masak lagi bareng teman-teman kos dan pas udah matang langsung telepon pacar masing-masing buat makan bareng. Pas sudah mulai kerja, magang di Jakarta, Alhamdulillah dapat teman kos yang enak-enak, jadi paling ngga tiap weekend kalau ngga sibuk kita pagi-pagi ke pasar dan masak-masak bareng. Pindah ke Pelaihari, setelah survey ternyata belanja bahan masakan di sini lebih mahal daripada beli jadi, selain itu karena kita pakai kompor minyak yang bikin pantat panci gosong dan didukung ngga ada lemari es di sini, makin malaslah saya masak-masak lagi. *alasan*

Jadi apa sebenarnya  passion saya? Saya juga masih ngga tahu. Saya menjelajahi semuanya tapi ngga ada satu pun yang benar-benar tuntas. Tapi kalau ditanya, apa keinginan saya? Saya pengen punya toko baju. Itu saja. Saya ngga tahu kenapa, tapi sejak kecil saya sudah suka bantu-bantu bude yang punya toko masuk-masukin baju-baju ke plastik-plastik dan sempat jualan jilbab juga waktu di kampus, tapi gagal karena kulakannya kemahalan.

Terus kapan saya mau merealisasikan keinginan saya itu? Saya masih ngga tahu. Kemarin salah seorang senior sempat bertanya, apa saya mau tetap terus bekerja seperti ini? Saya bilang tidak. Bukan. Bukan karena saya tidak mencintai pekerjaan saya sekarang. Saya menikmati pekerjaan saya ini. Satu-satunya yang membuat saya tidak nyaman akan perkerjaan saya sekarang adalah karena pekerjaan ini “memisahkan” saya dari keluarga saya, dan sekarang dengan suami saya. Yang saya khawatirkan adalah bagaimana saya bisa melayani suami dan mengabdikan diri sebagai seorang istri yang baik, dan insya Allah ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak, kalau saya masih nun jauh di sini? Pikiran ini yang terus-menerus membayangi saya akhir-akhir ini. Tapi kalau saya disuruh keluar sekarang dari pekerjaan ini saya masih belum mampu. Masih terlalu banyak yang harus dipikirkan dan dimantapkan sebelum benar-benar melakukannya. Hanya sekedar merealisasikan keinginan saja masih jauh panggang daripada api. Jadi satu-satunya yang bisa saya lakukan sekarang cuma menjalani semua ini, menikmati setiap detik perjalanan ini, sambil senantiasa memohon pada-Nya untuk memberikan yang terbaik buat keluarga kecil kami. Mohon doanya ya teman-teman..

Maaf karena isi tulisan ini melenceng jauh dari topik dan maaf juga karena bahasa yang saya pakai sepertinya jadi lebih “serius”. Makasih ya masih mau membaca tulisan-tulisan random saya..

Salaaaam..😀

12 thoughts on “Antara Passion dan Keinginan

    1. impian toko kueku hancur setelah aku gagal bikin clay itu chu..
      bikin clay kan sama aja kaya ngebentuk fondan buat hias cake, jadi ya sudahlah..
      eh tapi siapa tau ntar aku jadi pengusaha kue yang berjualan baju? hahahaha
      aamiin..
      mimpi kan harus yang tinggi ya chu.. biar termotivasi.😀
      makasih ya cantik.. :*

  1. Sama banget kayak aku nih Ninda.. Di umur yang sudah tidak muda lagi, entah kenapa passion-nya belum kelihatan dimana. Cuma tau suka musik, tulisan, dan hal2 berbau seni. Mungkinkah seni adalah passion-ku? Hehe who knows..

    Don’t stop searching your passion yah Nin, karena aku percaya itu yang bikin hidup lebih hidup *bukan iklan berbayar*😛

  2. menemukan passion itu bagus. bisa menghasilkan uang dari passion itu ideal.
    tapi kalo gak… ya gak apa juga… toh bisa tetep bahagia kan…🙂

    well, that’s my opinion…🙂

    1. yup, bener banget mas.
      meskipun ngga menjalani kehidupan yang ideal, toh kita masih tetep bisa bahagia.
      tapi tetep aja akan lebih bahagia kalo kita menjalani apa yg bener-bener kita cintai.
      am i right?
      btw, apakah pekerjaan mas sekarang ini merupakan passion mas Arman? *kepo*
      makasih ya buat opininya..🙂

    1. aamiin.. makasih banyak doanya mba Dwi..
      makasih juga sudah berkunjung ke blog ini..🙂
      satu lagi, saya suka banget baca2 tentang cerita Samara. salam buat Samara ya..😀

    1. Ameel.. maaf ya baru sempet bales. aku 2 hari ini tepar ga masuk kantor.
      aamiin aamiin ya Robbal alamiin..
      yang paling penting sekarang, semoga kita cepet mutasi ikut suami ya say.. :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s