Uncategorized

Cerita Hari Ini

Jam 6 pagi ini sekitaran Sudimara hujan deras.

Pagi ini saat akan keluar rumah saya tidak sadar kalau hujan turun, sampai saat abang Grab menjemput saya dalam keadaan basah. Sempat ada niatan kembali masuk rumah dan izin saja hari ini. Tapi melihat si abang Grab kasihan juga udah basah kuyub gitu kalau saya batalkan pesanan saya.

Bismillah.. Sambil memakai jas hujan abang Grab kami menuju ke Stasiun Sudimara. Sampai stasiun celana sudah basah kuyub, tapi tetap saya niatkan untuk ke kantor hari itu. Tanggung. Sudah basah gini. Kata saya. Di stasiun banyak bapak-bapak yang memakai baju putih-putih lengkap dengan pecinya.

Sepanjang jalan entah kenapa saya terus berdoa biar di Jakarta nanti tidak hujan. Bukan apa-apa. Kasihan bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak yang nanti akan sholat Jumat di Monas kalau sampai lokasi sholatnya becek. Alhamdulillah, sampai di Tanah Abang terang. Sama dengan kondisi saat aksi damai yang lalu, Jakarta mendung-mendung syahdu.

Turun dari kereta, saya disambut dengan suara shalawat pasukan berbaju putih. Sempat ada kemacetan saat turun dari peron, tapi itu bukan karena aksi massa ini. Memang peron di stasiun Tanah Abang sedang ada perbaikan dan membuat kemacetan parah saat keluar peron. Entah kenapa mata saya “mbrambang”. Mbrebes mili kalau kata orang Jawa. Baru mendengar suara shalawat puluhan orang saja saya sudah terharu. Gimana di Mekkah nanti di mana jutaan manusia menyerukan kalimat talbiyah bersama-sama?

Keluar stasiun ternyata Tanah Abang dipenuhi lautan manusia. Saya pesen Grabbike dan tidak ada yang mau ambil orderan saya. Lalu saya datangi tukang ojek pangkalan, begitu mengatakan tujuan saya, langsung si Bapak tidak mau menerima. Sedih lho ditolak tukang ojek itu. Hiks.. Saya ditelepon teman yang sama-sama ditolak tukang ojek, baik yang online dan pangkalan. Dia ngajakin naik bajaj berdua. Oke kata saya. Ternyata si tukang bajaj tidak mau nganterin ke kantor juga dong.. Double hiks.. Lagi melamun di pinggir jalan, ada mobil jemputan kantor seberang yang nawarin buat ikutan. Alhamdulillah.. Akhirnya saya naik.

Mobil pun melaju di tengah keramaian stasiun. Ramai lancar. Kondisi saat itu. Lalu supir memutuskan untuk lewat Tugu Tani karena Jalan Gambir ditutup dan Jalan Juanda macet parah. Awalnya mobil masih melaju di tengah kemacetan. Sampai suatu titik di Kebon Sirih, mobil stuck dan berhenti total. Merayap pun tidak. Melihat kondisi jalanan yang memprihatinkan itu, tiga orang ibu-ibu memutuskan untuk berjalan sampai kantor. What? Pikir saya kala itu, seberapa macet sih kok sampai mau jalan. Palingan bentar lagi jalan lagi mobilnya. Eng ing eng… Saya salah saudara-saudara.. Beberapa menit di dalam mobil yang stuck membuat bapak-bapak mau turun juga jalan kaki. Trus saya sama siapa? Masa tinggal berdua sama ibu-ibu sepuh di belakang? Akhirnya saya ikut turun dan jalan meninggalkan Pak Supir yang kejebak macet yang entah sampai kapan terurainya itu.

Saya mencoba menikmati berjalan bersama rombongan putih-putih yang Masya Allah banyak sekali jumlahnya. Hitung-hitung olah raga dan menyaksikan sendiri long march rombongan aksi damai ini. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ada ibu-ibu yang membagikan nasi kuning gratis di dalam sebuah kardus yang bebas diambil oleh siapa saja. Lalu bagaimana petugas keamanan suatu kantor yang membagi-bagikan air minum kemasan ke orang-orang yang lewat. Belum lagi betapa banyaknya orang yang sepertinya atas nama pribadi membagikan air minum kemasan, snack, dan makanan di jalan. Saya meskipun belum makan dan minum dari pagi tapi ada rasa sungkan untuk menerima air minum yang ditawarkan. Bukan hak saya. Pikir saya. Indah sekali kebersamaan yang saya rasakan saat itu.

Meskipun saya sampai di kantor sekitar pukul sembilan dan tentu saja ada konsekuensi yang harus saya terima, tetapi dalam perjalanan ini saya merasakan betapa kuatnya persaudaraan sesama muslim. Itu pengalaman yang berharga buat saya. .

Namun saya juga tidak lantas ikut ke aksi tersebut. Kalau kata istri mantan atasan saya, sebaik-baiknya tempat untuk wanita adalah di rumah mendoakan untuk suaminya. Well, saya ngga sepenuhnya di rumah sih. Saya hari ini memilih tetap bekerja dan mendoakan teman-teman yang mengikuti aksi damai ini agar selalu diberikan keselamatan. Semoga tetesan air hujan yang mengguyur tubuh saudara-saudara kita saat sholat Jumat tadi menjadi keberkahan. Tulisan ini dibuat hanya untuk menceritakan kepada anak-anak saya bahwa saya pernah menyaksikan bagaimana indahnya persatuan antar sesama muslim, bagaimana bisa seseorang dengan ikhlas menyediakan makanan minuman di jalan buat orang-orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya.

Sekarang udah jam 3. Yuk yang lagi aksi pada pulang yuk. Biar nanti pulangnya ngga bentrok sama yang pulang kerja. Semoga perjalanannya lancar dan sampai di rumah masing-masing dengan selamat. Aamiin..

3 thoughts on “Cerita Hari Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s